Showing posts with label Profil Usaha. Show all posts
Showing posts with label Profil Usaha. Show all posts

Monday, August 1, 2011

Jangan Cepat Puas : Pelajaran Sukses Dari Eksportir Mebel

Cepat puas, barangkali itu yang kerap hinggap di kalangan pelaku usaha manakala bisnisnya mulai menanjak naik. Padahal keberhasilan bisa menjadi sebuah jebakan untuk berhenti berkreasi dan kendur dalam berusaha. Jangan Cepat Puas, Pelajaran itulah yang bisa kita perik dari seorang Wahyu Hanggono, eksportir mebel dari Sukoharjo Jawa Tengah yang telah mengeksport mebelnya ke lima benua.

Perjalanan bisnis mebel Wahyu Hanggono memang boleh dibilang dirintis dari nol, ia terlahir bukan dari keluarga pengusaha tetapi keluarga PNS. Berbekal modal Rp 10 juta hasil pinjaman orang tuanya, Wahyu mencoba peruntungan dengan membuat bisnis mebel di rumah orang tuanya. Ditemani dua pekerjanya, ia mulai mendesain produk mebel untuk memasok perusahaan inti plasma. Saat itu, dia menjadi plasmanya Pak Joko Widodo, Wali Kota Solo.
Ketertarikan berbisnis furnitur timbul semasa ia masih mahasiswa di Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. “Saya melihat teman yang berbinis furnitur. Kayaknya enak dapat penghasilan,” ungkapnya. Dari situ, ia pun tertantang untuk meniru temannya. Berbekal kemampuan mendesain, Wahyu mulai merintis bisnisnya dari nol.
Kendati hanya seorang plasma kecil, tak menyurutkannya untuk mencari peluang bisnis. Maka, ia pun mulai ikut sejumlah pameran yang diselenggarakan Departemen Perdagangan di daerahnya. Nah, tahun 2000 ia memberanikan diri mengekspor produknya ke luar negeri. Produk mebel yang diekspor adalah mebel tradisional nan antik. Makanya, saat itu ia membuat perusahaan bernama Indonesia Antique yang hingga sekarang masih eksis.
Jumlah ekspor pertamanya satu-dua kontainer. Keuntungan pun mulai dipetik Wahyu, apalagi ketika itu nilai dolar sedang tinggi. Sejak itulah perusahaannya makin rajin menggelar pameran dan selalu diikutsertakan oleh Departemen Perdagangan. Wahyu pun memindahkan pabriknya ke daerah Luwang Sukoharjo yang berdiri di atas lahan 1.500 m2.
Mencicipi manisnya keuntungan saat baru lulus kuliah membuat Wahyu terlena dan merasa puas. Efeknya, kontrol kualitas terhadap pekerja plasmanya makin kendur, dan jadwal ekspor pun tak bisa tepat waktu. Para pelanggan di luar negeri komplain, sehingga membuat bisnis Wahyu limbung. “Perusahaan saya saat itu hampir bangkrut karena saya sudah mulai nyaman,” katanya sambil menceritakan kala itu banyak karyawannya yang di-PHK-kan dan bisnisnya mulai kedodoran. “Rasa nyaman harus saya waspadai sekarang karena akan menghancurkan bisnis,” ujarnya seperti menasihati dirinya sendiri.
Untunglah, tahun 2004 ketika dirinya menikah, bisnisnya mulai bangkit lagi. “Kata orang, menikah bisa memberi keberuntungan,” ucapnya sambil terbahak. Memang, sejak dirinya menikah, bisnisnya tertata kembali. Pelanggannya di luar negeri makin bertambah. “Tahun 2004, kami mampu mengekspor 25 kontainer per bulan. Saat itu bisnis kami mengalami booming,” ujarnya bersyukur.
Pabriknya yang ditempati di Sukoharjo juga semakin luas, dari awalnya 1.500 m2 kini mencapai 1,4 ha. Pabrik ini sekaligus menjadi kantor Grup Aqsa. Di pabariknya ini, pihaknya menampung 50 kelompok plasma yang memiliki sejumlah pekerja yang kalau ditotal mencapai ribuan. Ini belum termasuk 100 karyawan kantornya dan 400 pekerja di bagian finishing.
Andi Kurniyawan, Analis Finansial PT Aqsa International, mengatakan, Wahyu sangat gigih membangun bisnisnya dari bawah. Bosnya itu bukan keturunan pengusaha karena ayahnya, Djowo Semitoatmodjo, adalah pegawai negeri. “Berkat kegigihan Pak Wahyu, Aqsa bisa sebesar sekarang dan pasar produknya ada di lima benua,” katanya memuji.
Memang, jumlah ekspor Aqsa terus meningkat dan sekarang menjadi 25 kontainer per bulan atau senilai US$ 6 juta per tahun. Merek produknya, Aqsa Living, juga makin berkibar di lima benua: AS, Eropa (Prancis, Polandia, Italia, Belanda, Jerman), Asia (Korea), Australia dan Afrika. “Ekspor paling banyak ke AS dan Eropa, masing-masing 35% dari total ekspor Aqsa,” Wahyu menjelaskan.
Menurutnya, ada tiga jenis pelanggannya di luar negeri. Pertama, pasar proyek. Di segmen ini, Wahyu membidik pengembang properti, seperti hotel, apartemen dengan pesanan yang customized. Kedua, chain store seperti Tier 1, hypermarket di AS yang memiliki jariangan 1.200 toko. Ketiga, wholeseller yang membeli mebel dari Aqsa untuk dijual kembali ke pelanggan di negara masing-masing.
Agar produknya terus diminati pasar di setiap negara tujuan ekspor, Wahyu sangat menekankan sisi desain produk. Soal desain, Wahyu memang sangat serius. Bahkan, untuk memperoleh desain yang bagus, perusahaannya setiap tahun membuat sayembara desain mebel dengan hadiah ribuan dolar. Menurutnya, kondisi bisnis mebel di Indonesia menurun karena salah satunya masalah desain yang tidak mengikuti tren pasar. “Soal desain memang kelemahan produk mebel di negeri ini,” katanya. Padahal, dari pengalamannya menyelenggarakan sayembara desain, lanjut Wahyu, sejatinya sangat banyak desainer lokal yang karyanya mampu bersaing dan digemari pasar ekspor.
Selain sering menyelenggarakan sayembara desain, survei pasar pun sering dilakukan. Salah satu caranya dengan rajin mengunjungi pameran furnitur tingkat internasional. “Minimum setahun dua kali kami melakukan survei pasar,” ujarnya. Dengan cara itulah, produk Aqsa tetap digemari dan laku di pasar luar negeri. Apalagi, pasar luar negeri merupakan satu-satunya bidikan produknya karena ia belum memasarkan produknya di dalam negeri.
Saat ini, Aqsa berencana mengembangkan pasar yang lebih besar, terutama pasar AS yang ekonominya mulai tumbuh. Wahyu tengah mempersiapkan untuk membangun pabriknya yang lebih luas, modern dan terpadu di Kalijambe, Sragen, Ja-Teng seluas 4,7 ha. Pabrik baru berwawasan ramah lingkungan itu dibangun di kawasan sentra industri mebel Kalijambe yang total luasnya 24 ha. “Akhir tahun ini atau paling lambat awal 2011 pabrik tersebut akan dibangun,” kata Wahyu memberi bocoran. Modal yang digelontorkan untuk membangun pabrik barunya itu sekitar Rp 80 miliar.
Lagi-lagi, untuk membangun pabriknya di Kalijambe dengan konsep green itu, ia menyelenggarakan sayembara desain. “Pemenangnya adalah konsultan dari Bandung yang pemiliknya lama bekerja di Jepang,” ia menginformasikan.
Tujuan dibangunnya pabrik Kalijambe untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi mebelnya. Dengan adanya pabrik baru itu kualitas produk dan kualitas kerja para plasmanya akan lebih terukur. “Di pabrik baru ini akan dipekerjakan 25 kelompok plasma,” ujarnya. Memang, kendala lainnya dari para perajin mebel atau kelompok plasma di daerahnya adalah masalah perilaku, yaitu waktu bekerja tak terarah, kualitas dan keterampilan tak berkembang. Kadang pula membuat mebel semaunya sendiri tanpa terukur waktu dan kualitas produknya.
Maka, di pabrik Kalijambe itu hendak disediakan tempat bekerja yang memadai bagi para plasma: mulai dari kenyamanan tempat bekerja, permesinan yang modern dan pelatihan cara membuat mebel yang standar ekspor. Selain itu, dengan ditempatkan dalam satu lokasi yang terpadu, masalah jarak para plasma akan teratasi sehingga pengiriman produk ke luar negeri bisa lebih tepat waktu. “Problem-problem yang selama ini kami alami akan teratasi dengan adanya pabrik baru kami di Kalijambe,” kata wahyu berharap. Nilai ekspor pun ditargetkan meningkat menjadi 50 kontainer per bulan.
Pabrik di Kalijambe, selain untuk mengatasi masalah kerja plasma selama ini, digunakan pula sebagai tempat magang siswa di sekitar lokasi pabrik. Juga akan dibangun tempat berkumpul para desainer mebel agar makin kreatif.
Nantinya, diharapkan para plasma binaan Aqsa yang sudah mapan, bisa membangun sendiri bisnisnya dan menjadi usaha inti untuk menampung para plasma lainnya. “Mereka bisa mandiri dengan keterampilan yang sudah standar ekspor. Itu harapan saya ke depan,” katanya serius.
Wali Kota Solo, Joko Widodo, menyambut baik rencana Wahyu membangun pabrik di Kalijambe dengan konsep green dan sejumlah rencana ke depan. “Ia punya visi ke depan dengan pabrik barunya itu,” ujar Joko. Dan bagi Joko pun, Wahyu adalah mantan plasmanya dulu. “Pengusaha seperti Wahyu ini haruslah didukung agar makin berkembang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja,” katanya memberi semangat.
Dengan bisnisnya semakin berkembang, Wahyu yang membuat induk perusahaannya PT Aqsa International sejak 2009 ini hendak melakukan ekstensifikasi bisnis dengan membidik pasar dalam negeri melalui anak perusahaan bernama Qabana. “Sementara Indonesia Antique tetap berjalan dan sekarang di bawah PT Aqsa International,” katanya.
Di bawah Qabana, Wahyu akan membangun toko mebel one stop shopping. Nantinya, setiap pelanggan yang datang ke tokonya bisa membeli segala kebutuhan mebel rumahnya. “Pelanggan tinggal membawa desain rumahnya, kami akan memberi masukan tentang furnitur yang sesuai dengan desain rumah pelanggan,” ujarnya sambil memimpikan tokonya bisa seperti jaringan Index yang berada di beberapa tempat. “Pasar dalam negeri sangat menarik digarap karena selama ini produk kami 100% diekspor.”
Tak hanya itu, Wahyu juga punya obesi dalam lima tahun ke depan, perusahaannya bisa go public dan listing di bursa supaya bisnisnya makin berkembang.

Sumber:
http://swa.co.id/2010/12/wahyu-hanggono-mantan-plasma-yang-tembus-pasar-lima-benua/
READ MORE - Jangan Cepat Puas : Pelajaran Sukses Dari Eksportir Mebel

Sunday, July 31, 2011

Sukses Usaha Di Sektor Agrobisnis Walau Dalam Keterbatasan

Keterbatasan fisik terkadang membuat orang berhenti berkreasi dan beraktifitas produktif. Namun tidak demikian halnya dengan Triyono,lelaki 29 tahun dari Sukoharjo ini justru sukses usaha di sektor Agrobisnis karena keterbatasan fisiknya. Keterbatasan fisiknya sudah pasti menjadi salah satu alasan orang untuk menolaknya ketika melamar pekerjaan di suatu perusahaan. Hal inilah yang mendorong Triyono untuk membuka usaha sendiri di bidang agrobisnis. Selain itu prinsip yang dianutnya: sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain turut memperkuat semangat untuk membuka usaha sendiri.

Pilihan bisnisnya jatuh pada usaha  Agrobisnis, selain karena latar belakang pendidikannya adalah jurusan Pertanian dan Peternakan Universitas Negeri Sebelas Maret, ia menganggap usaha di sektor Agrobisnis memiliki peluang yang cukup besar. Dengan bermodalkan Rp 5 juta, ia memulai usaha bebek potong. Ia membeli 500 bebek untuk dia kembang biakkan dan dibesarkan di lahan pekarangan rumah keluarganya.
Ia benar-benar menerapkan ilmu peternakan yang diperoleh di bangku kuliah. Hasilnya tokcer. Banyak pesanan mampir karena kualitas bebek peternakan Tri terbilang unggul. Bebek hasil ternaknya bukan hanya sehat, tetapi juga memiliki berat proposional. Ini yang membuat harga “si kwek-kwek” selalu bagus.
Pelan tapi pasti, selama setahun Tri mampu mengumpulkan modal dari usaha bebek potongnya. Tri memakai tambahan dana itu sebagai usaha jual beli sapi menjelang Idul Adha.
Usaha Agrobisnisnya semakin berkembang , awal 2007 ia memberanikan diri memulai usaha jual beli hewan kurban. Ia mengenang, saat itu menjadi tahun terberat baginya. Selain harus mempersiapkan ujian skripsi, ia juga baru merintis usaha agrobisnis.
Walhasil, saat pagi hingga siang hari ia harus berkutat dengan kuliah. Setelah itu Tri mencurahkan waktunya membeli dan menjual sapi untuk pasokan hari raya kurban.
Seorang diri, ia memasok hewan-hewan tersebut ke beberapa daerah di sekitar Sukoharjo. Masuk keluar pasar setiap hari sudah menjadi kegiatan rutin. “Saya harus berjalan jauh dengan menggunakan kruk, mencari dan membeli sapi yang berkualitas kemudian mengantar sapi-sapi tersebut ke tempat pesanan,” kenang Tri. Tapi, dia pantang menyerah meski beberapa orang kerap menolak bekerja sama dengannya.
Segala usahanya tak sia-sia. Tri lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,2, dan juga meraih untung dari hasil penjualan sapi kurban. Ia memutar kembali keuntungan itu sebagai modal mengembangkan usaha agrobisnis dengan  membeli sapi dan ayam.
Menyadari peluang usaha dari agrobisnis cukup besar karena menyangkut kebutuhan primer banyak orang, dengan bermodalkan Rp 20 juta, Tri pun mantap membangun usaha secara serius pada tahun 2008.
Dengan mengibarkan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, Tri berbisnis peternakan terpadu sapi potong, ayam potong, dan pupuk organik. Meski tak memiliki latar belakang berbisnis, Tri mampu meraih pasar dengan cepat.
Bekal kuliah menjadi nilai plus mengembangbiakkan ternak. Alhasil, pada 2008 dia mampu meraih omzet Rp 50 juta per bulan. Dia juga berhasil membuka lapangan kerja baru di desanya.
Meski tak keluar sebagai pemenang Wirausahawan Mandiri 2010, Triyono tak kecewa. Maklum, sejatinya, melalui ajang bertaraf nasional ini, ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa peternakan sangat layak menjadi pilihan anak muda dalam berusaha. Asalkan, dikelola dengan manajemen yang baik.
Bagi Triyono, persoalan menang atau kalah bukanlah tujuannya mengikuti ajang Wirausahawan Mandiri 2010. Ada gol lain yang hendak dituju. Yakni, mengenalkan CV Tri Agri Aurum Multifarm ke seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, Triyono juga ingin menunjukkan ke semua orang bahwa agrobisnis bukan hanya usaha yang cocok untuk orang tua, tetapi juga dapat dikelola oleh anak muda seperti dirinya. “Saya ingin usaha agrobisnis yang dikelola anak muda menjadi tren,” ungkap Triyono.
Sejak mengembangkan usaha agrobisnis dengan bendera Tri Agri tiga tahun lalu, omzet Triyono terus menanjak setiap tahun. Jika pada 2008, penghasilannya baru sebesar Rp 500 juta. Pada 2010 lalu pendapatannya melonjak enam kali lipat menjadi Rp 3 miliar.
Kualitas ternak-ternak milik Triyono yang dibudidayakan di peternakan seluas 1 hektar tersebut terbilang unggul ketimbang ternak milik pelaku usaha lain. Meski begitu, bukan berarti Triyono boros dalam membudidayakan semua hewan ternaknya, justru sebaliknya. Tapi, “Bukan berarti saya irit memberi makanan ternak, tapi saya memberi makanan ternak secukupnya,” ujar pria 29 tahun ini.
Hewan ternak yang diberi makan sesuai dengan asupannya dan tepat waktu lebih sehat dibandingkan dengan hewan ternak yang terus-terusan diberi makan. “Kami selalu memberi pakan tanpa campuran bahan kimia, hanya yang ada di lahan kamilah yang dimakan ternak, misalnya, rumput hijau,” kata Triyono.
Cara ini tentu saja dapat menekan biaya operasional. Triyono juga memanfaatkan aneka bumbu dapur, seperti kunyit, jahe, dan lengkuas untuk mengobati ternak-ternaknya yang sakit akibat faktor perubahan cuaca. “Kalau ternak tak nafsu makan, tinggal diberi daun pepaya yang telah ditumbuk halus,” imbuh dia.
Memanfaatkan pakan yang bersumber langsung dari alam tanpa campuran bahan kimia, Triyono mengatakan, juga akan menghasilkan sapi, ayam, dan bebek yang sehat dan bebas dari penyakit. Jadi, manajemen pakan, menurut Triyono, adalah 70 persen kunci dari keberhasilannya.
Namun, pola peternakan yang layak ditiru dari Triyono tak cuma sekadar soal memelihara, membesarkan, dan menjual hewan ternak, tetapi juga mengenai pengolahan limbah ternak.
Triyono—yang kerap memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret Surakarta—memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kompos, kemudian dijual ke pasar seharga Rp 350 per kilogram.
Dalam sebulan, Triyono dapat mengolah 15 ton kotoran ternak yang disulap menjadi pupuk. Pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) selama setahun saat usia delapan tahun ini mengatakan, ide mengolah limbah peternakan muncul ketika ia melihat kotoran ternak yang makin menggunung di sekitar lahan peternakannya.
Untuk menjadi pupuk, Triyono mencampur kotoran ternak dengan tanah dan serbuk jerami. Pengerjaannya secara manual. Setelah semua bahan tercampur secara merata, kemudian dibungkus dengan plastik dan siap dijual ke pasar.
Meski usaha agrobisnis seperti peternakan telah mengantarkan sebagian orang bergelimang harta, toh sektor ini belum menjadi pilihan kalangan anak muda. Selain masih dinilai terlalu kolot dan hanya cocok untuk orang tua dan masyarakat pedesaan, agribisnis khususnya peternakan dianggap tidak bergengsi.
Apalagi, Triyono mengatakan, memulai usaha di bidang agrobisnis harus memiliki modal yang besar. Inilah yang membuat para peternak lebih terlihat sebagai pemasok yang hanya mengejar keuntungan semata.
Padahal, menurut Triyono, kalau usaha ini dikelola dengan baik, niscaya beternak bisa setara dengan usaha-usaha bergengsi lainnya, seperti kuliner, industri kreatif, atau jasa.



Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/01/25/11355699/Triyono.Juragan.Agribisnis.Beromzet.Miliaran
READ MORE - Sukses Usaha Di Sektor Agrobisnis Walau Dalam Keterbatasan

Saturday, July 30, 2011

Rahasia Sukses Bisnis Properti

Bisnis properti menjadi ladang bisnis yang cukup menggiurkan, bagaimana tidak, setiap saat orang selalu membutuhkan tempat tinggal yang nyaman. Kalau berbicara bisnis properti di Indonesia nama Ciputra tidak bisa dilupakan orang. Di banyak kota di Indonesia bahkan di negara-negara lain misalnya Vietnam, Kambioja, Cina dan India Ciputra sukses mengembangkan properti. Sukses bisnis properti yang diperoleh tentu bukan perkara gampang tetapi ada banyak hal yang telah ia lakukan mulai tahun 1961 hingga akhirnya sekarang menuai hasilnya.
Kunci sukses yang utama dalam mengembangkan bisnis properti Pak Ciyang adalah Partnership. Dimanapun membangun properti ia selalu bekerja sama dengan pihak lain baik itu pemerintah saudara dan kaum profesional.
Dalam melakukan partnership tersebut jika ingin menjadi leader maka harus bersikap sebagai hamba yang melayani dan memberi. Meski bermitra dengan banyak orang memiliki sifat yang berbeda-beda, kuncinya kita harus bisa bersikap toleran atau mengalah terlebih dahulu.
Konsep top of mind dalam membangun properti menjadikan perumahan yang dibangun memiliki kualitas yang baik. Setiap kali orang datang ke sebuah kota, yang diingat adalah perumahan Ciputra itulah yang menjadi orientasi. Inovasi dan entrepreneurship (kewairausahaan), serta semangat dan keyakinan, juga memiliki peranan sangat penting dalam kesuksesan bisnis properti.
Dalam mengembangkan properti Ciputra tidak pernah berhenti untuk melakukan pengembangan, misalnya saja investasi keuntungan dalam bisnis 30 persen diambil sebagai deviden sedangkan 70 persen dipergunakan unuk reinvestasi kembali dalam membangun perumahan. Sehingga bisnis properti selalu berkembang terus menerus.
Dalam menjaga brand dan kualitas , di setiap daerah yang dibangun kualitas perumahan ciputra selalu sama. Ini dilakukan dengan mengirimkan orang-orang profesional dan berpengalaman ke setiap daerah.
Faktor penting lain yang turut mendukung kesuksesan bisnis ciputra adalah kekuatan inovasi dalam menjalankan bisnisnya. Inovasi menjadi energi yang kuat mendukung kesuksesan bisnis properti ciputra. Untuk bisa berhasil, dibutuhkan tiga hal, yaitu wisdom, integrity, innovation. Integritas hal yang sangat penting karena itu adalah mata uang yang berlaku di mana pun. Begitu penuturan Pak Ci. 
 
Sumber:
http://properti.kompas.com/index.php/read/2011/04/01/06342687/Rahasia.Sukses.Ciputra.amp.Wisdom.Integrity.Innovation.amp.
READ MORE - Rahasia Sukses Bisnis Properti

Friday, July 29, 2011

Hobi Fotografi Bisa Jadi Bisnis Mengguntungkan

Hobi memang bisa menjadi salah satu entri untuk menekuni sebuah bisnis. Karena hobi maka segala sesuatu dilakukan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh, dan hasilnyapun sangat luar biasa. Salah satu hobi yang banyak digemari orang adalah Fotografi, namun tidak semua orang melanjutkannya menjadi bisnis. Ternyata hobi fotografi menawarkan peluang bisnis yang cukup menguntungkan, hal ini yang dilakukan oleh Andree.
Berawal memiliki hobi fotografi, Andree membuka studio foto kecil-kecilan di sebuah ruko milik temannya, yang berlokasi di kawasan Depok pada enam tahun silam. Usaha kecil-kecilan, yang bermodal minim hanya berupa kamera foto tersebut dijalani bersamaan dengan profesinya sebagai jurnalis.
Ternyata hobinya adalah dunianya. Usaha fotografinya, yang diawali dengan hobi memotret, sejak lama membuat penyuka masakan pedas ini memilih untuk berhenti dari profesi jurnalis di salah satu media nasional di Tanah Air.
Sempat malang-melintang di dunia tulis-menulis tersebut tidak membuat dirinya berhenti dari kesukaannya memotret. Pria ramah ini meski mengantongi gelar sarjana komunikasi, namun akhirnya memutuskan diri untuk berhenti dari profesinya sebagai jurnalis pada 2008 lalu.
Kemudian, Andree mulai menekuni usaha fotografi kecil-kecilannya tersebut secara serius bersama seorang temannya. Pada tahun yang sama, Andree bersama temannya mengembangkan jasa tidak hanya foto, namun mulai bertambah dengan hadirnya video syuting.
Menurut dia, porsi jasa yang diminati antara foto dan video syuting berimbang. Adapun jasa yang diberikan berupa foto buku tahunan atau kegiatan kampus dan perusahaan. Selain itu, syuting wedding (pernikahan), dokumentasi kegiatan atau profil perusahaan dan pemerintah.
Hingga saat ini, sejumlah pesanan (order) dari pemerintah maupun perusahaan swasta pernah diterimanya. Pada 2005 lalu, dia pernah mendapat order syuting dokumentasi di Papua dari salah satu kementerian. Di samping itu, juga menjadi langganan foto maupun video syuting oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, pernah membuat dokumentasi laboratorium Universitas Indonesia (UI) dan sejumlah perusahaan.
Menurut dia, bisnisnya berkembang karena jaringan pertemanan. Pemasaran yang dilakukannya selama ini hanya dari mulut ke mulut atau berbagi order kepada sesama teman. “Kadang kalau teman kebanyakan order di-sharing ke kita, begitu juga sebaliknya,” katanya.
Dengan keseriusan menekuni hobinya tersebut, Andree bersama temannya sudah memiliki dua studio foto. Satu studio, yang berlokasi di Depok diberi nama Hijau Entertainment. Studio ini dikelola dirinya, sedangkan satu studio bernama Alvan Galeri berlokasi di Srengseng Sawah dikelola temannya, yang dulu bersamanya merintis bisnis ini.
Untuk studio di Srengseng Sawah, kebanyakan pelanggannya adalah sekolah-sekolah, di kawasan Depok dan Jakarta Selatan, seperti taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA),untuk pembuatan buku tahunan atau pas foto.
Sementara studio di Depok, pelanggannya lebih banyak perusahaan dan pemerintah. Pria yang menjadi fotografer pribadi Wali Kota Depok sejak tiga tahun lalu ini mengungkapkan, studio fotonya yang sebelumnya hanya dijalani oleh dua orang, saat ini sudah memiliki tim yang berjumlah 13 orang, terdiri atas fotografer, kamerawan, kru, desain grafis, dan video editor.
Adapun omzet kotor yang diperolehnya dalam tiga bulan pertama tahun ini berkisar antara Rp30 juta–Rp68 juta per bulannya. Untuk video syuting, diakuinya pernah memperoleh order Rp10 juta, Rp67 juta dan terbesar mencapai Rp88 juta.
Menurut dia, sebagian besar order yang diperolehnya berasal dari order di Depok mencapai 75 persen dan sisanya sekira 25 persen berasal dari order di Jakarta.
Kendati demikian, ada waktu-waktu tertentu order foto maupun video syuting yang digelutinya tidak terlalu ramai, seperti terjadi pada bulan puasa. Untuk menyiasatinya, dia bersama tim berpikir kreatif menggarap lahan lain, misalnya video syuting dokumentasi buka puasa atau sahur.
Hal ini terbukti membuahkan hasil dan dia bersama tim bisa menikmati indahnya Idul Fitri. Sementara, kendala yang dihadapi saat menjalani bisnis ini adalah ketika alat error, sehingga diperlukan alat cadangan. Adapun alat-alat yang dibutuhkan untuk berkecimpung di bisnis ini, di antaranya kamera foto, kamera video, blitz, lighting, background maupun tripod.
Andree bersyukur pilihan untuk berhenti dari dunia jurnalis dan beralih ke hobinya tersebut membuahkah hasil positif, tidak hanya bagi dirinya, tapi juga orang lain. Hasil yang diperoleh dari bisnis ini dialokasikan untuk investasi perlengkapan alat dan tabungan.
“Bisnis ini yang sampai sekarang menghidupkan aku dan teman-teman. Dari bisnis ini bisa menghidupkan keluarga,” imbuh dia.
Ke depan, dia berencana melakukan ekspansi dengan membuka sekira 1-2 studio baru di kawasan Depok lantaran peluangnya cukup besar. Dua lokasi yang diliriknya, satu di daerah Sawangan dan satunya di Cimanggis. Dia berharap, studio yang dimilikinya bisa jalan tanpa campur tangan dari penggagas, kecuali mendapat order besar atau hal lain yang memang memerlukan bantuan.
Contohnya saat ini, dia bersama teman melakukan kerja sama dengan rumah sakit (RS) swasta di Depok terkait foto bayi. Bisnis foto bayi ini sudah berjalan sekira enam bulan dan dia masih melakukan evaluasi terkait rencana mengembangkan bisnis foto ini ke depan.
Selain foto bayi, dia juga merambah ke bisnis cetakan, seperti membuat buletin, buku tahunan, maupun undangan. Bahkan pada awal tahun ini, dia sempat mendapat order dari salah satu majalah selama tiga bulan untuk mencetak sekira 5.000 eksemplar per bulan.
Tidak hanya memfoto dan mencetak, ternyata pria yang gemar jalan-jalan ini juga memanfaatkan kepiawaiannya menulis artikel di majalah tersebut.

Sumber:
http://economy.okezone.com/read/2011/04/03/22/441841/hobi-jeprat-jepret-bisnisnya-beromzet-puluhan-juta
READ MORE - Hobi Fotografi Bisa Jadi Bisnis Mengguntungkan

Thursday, July 28, 2011

Berbekal Hobi Dengan Modal Kecil Bisnispun Lancar

Tidak selamanya bisnis memerlukan modal uang yang besar, boleh dikatakan tanpa modalpun bisnis bisa dilakukan dengan sukses. Terlebih lagi jika bisnis dilakoni atas dasar kesukaan atau hobi. Tengok saja Anindita Damayanti ibu rumah tangga muda yang hobi masak-memasak , kesukaannya pada kegiatan memasak menjadikannya sukses dalam mengelola bisnis nugget. Modal awal berbisnis nuggetpun boleh dibilang cukup kecil, hanya 150 ribu rupiah.

Bukan hanya modal bisnis yang kecil namun bisnis nugget buatan Anindita juga sangat memperhatikan kandungan nutrisi dan aspek kesehatan makanan. Hal ini karena nudged buatannya terbuat dari bahandasar daging ayam tersebut ditambahkan dengan berbagai jenis sayuran dan yang terpenting nudged dibuat tanpa MSG.
Pemasaran bisnis nugget sehat ini pada awalnya dilakukan pada lokasi sekolah Taman Kanak-kanak tempat anaknya sekolah. Dengan berbekal 30 bungkus nugget sayur dan keju ternyata ludes dibeli oleh orang tua murid karena penasara. Setelah itu ternyata banyak anak-anak yang suka sehingga order nudget sayur terus mengalir.
Kini bisnis nugget Anin yang diberi brand nuggetku telah dipasarkan pula memalui Internet di situs www.nuggetku.net78.net. Semenjak itu bisnis nuggetnya berkembang cukup pesat.
Untuk menjalankan bisnis nugget ini yang diperlukan adalah bahan-bahan pembuat nugget, yakni daging ayam giling, sayuran (wortel, bayam, dan brokoli), keju, telur, tepung maizena, tepung roti, serta cornflakes.
Pembuatan nugget pun sangat sederhana dan mudah. Dengan komposisi yang sesuai dan seimbang, semua bahan dicampur lalu dicetak dalam loyang dan dikukus. Setelah matang, nugget dilumuri dengan tepung roti dan siap dikemas tanpa menggunakan bahan pengawet. Jika disimpan dalam freezer, nugget akan bertahan sampai dua minggu.
Untuk peralatan produksi yang diperlukan adalah alat-alat sederhana yang sudah ada di dapur yakni blender, loyang, penggorengan, dan kompor. Pengerjaannya juga dilakukan sendiri tanpa bantuan asisten.
Bisnis yang ditekuni dengan penuh kesungguhan karena hobi meski sederhana ternyata mampu menjadi sumber rezeki. Dan tentunya tidak perlu bingung-bingung memikirkan modal usaha yang besar. Bisnis nuggetku menjadi bukti.

Sumber:
http://female.kompas.com/read/2011/04/07/15185599/Bisnis.Nugget.Modalnya.Rp.150.Ribu.Saja
READ MORE - Berbekal Hobi Dengan Modal Kecil Bisnispun Lancar

Wednesday, July 27, 2011

Menengok Rahasia Di Balik Sukses Bisnis Toko Online

Bisnis toko online menjadi cara bisnis yang semakin menjamur di Indonesia. Selain dipandang menjadi cara yang efektif dan murah dalam berbisnis juga dianggap mudah dalam operasionalnya. Namun tidak jarang banyak yang menemui kegagalan di dalamnya. Apa sesungguhnya yang menjadi kunci sukses dalam mengelola binis toko online? Salah satu pionir dalam bisnis toko online di Indonesia adalah Bhinneka.com. Perjalanan bisnisnya cukup panjang dan berliku, namun bisa dijadikan isnpirasi bagi pelaku usaha utamanya pengelola toko online.

Lahirnya bhinneka.com merupakan efek dari krisi moneter yang melanda Indonesia tahun 1999. Bisnis offline yang dikelola turut terkena imbasnya, sehingga memaksa untuk mempertahankan bisnis dengan membuka toko online. Alasannya adalah karena membuka toko online relatif mudah. Maka semenjak itu web perusahaan dirombak menjadi lapak dagangan tempat memajang produk-produk IT.
Fokus Pada satu layanan tertentu
Pada saat kelahiran Bhinneka.com bisnis dunia Internet memang sedang menjamur. Banyak pelaku bisnis yang mengelola situs sebagai toko online  maupun campur layanan lainnya. Namun pada umumnya mereka tidak fokus pada satu layanan terntentu misalnya, berita, email, e-comerce. Alih-alih berharap keuntungan berlimpah dari banyak layanan ini, namun justru tidak bisa survive karena kurang fokus.  Inilah yang membedakannya dengan Bhinneka. Bisnis online Bhinneka berfokus pada e-comerce yang menjual produk-produk TI.
Iklan dan pencitraan
Meski bisnis onlinenya cukup spesifik dan eksis namun bukan berarti bisnis bhinneka melaju pesat, jika ditinjau dari aliran kas yang masuk dari toko online.  Berbagai kendala juga dihadapi ,salah satunya adalah perubahan mindset dalam berbisnis. Jika dulu yang dihadapi adalah pelanggan peritel, maka pada saat memasuki bisnis toko online yang dihadapi adalah end user.
Upaya untuk mempopulerkan bisnis online telah dilakukan salah satunya dengan memasang iklan satu halaman penuh di media massa. Meski itu belummembuat penjualan bisnis bhinneka melesat, namun memiliki nilai positif berupa pencitraan (branding) yang meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Didukung Toko Offline
Pendapatan Bhinneka mulai naik pada saat membuka toko offline di Mangga Dua. Melihat hal tersebut akhirnya dibukalah beberapa cabang toko offline bhinneka. Angka transaksi belanja online hanya menyumbang sekitar 5% saja sedangkan sisanya belanja pada toko offline.
Inovasi pada Toko Online
Meki toko online hanya menyumbang sedikit saja dari sisi transaksi namun toko online memberi andil yang cukup besar dalam pencitraan. Karena itulah inovasi pada toko online bhinneka terus dilakukan . Salah satunya mekanisme tawar menawar online. Hal ini disesuaikan dengan karakteristik pembeli di Indonesia yang suka menawar. Selain itu harga yang dipajang pada toko online bhinneka dipatok dengan harga yang lebih tinggi dati toko. Dengan mekanisme tawar menawar ini diharapkan mampu menaikkan transaksi pada toko online.
Mengelola bisnis toko online memang bisa dibilang gampang-gampang susah, mudah untuk setup namun cukup sulit dalam membangun kepercayaan dan citra. Namun agar sukses dalam bisnis kuncinya adalah sikap Konsisten pada satu hal, Passion , gratefull(bersyukur) dan didukung SDM yang baik serta memiliki Visi yang bagus. Itulah yang dinasehatkan Hendrik Tio (CEO Bhinneka).
 
Sumber:
Info Komputer, Januari 2011
READ MORE - Menengok Rahasia Di Balik Sukses Bisnis Toko Online

Tuesday, July 26, 2011

Sukes Menjadi Pengusaha Berawal Dari Mimpi

Banyak orang mengatakan bahwa mimpi merupakan awal dari kesuksesan seseorang. Termasuk juga menjadi pengusaha yang sukses. Menjadi pengusaha yang sukses selalu diawali dari mimpi dan obsesi yang kuat. Namun tentunya tidak berhenti pada mimpi belaka, harus diikuti dengan segera memulai mewujudkannya. Karena itu untuk menjadi pengusaha yang sukses mulailah dari mimpi dan jangan takut bermimpi.
Adalah Pipie Soeyoto yang memberikan nasehat tersebut, pemilik PT Huda Rachma Grupindo (HRG) yang bergerak pada bidang pembuatan tas dan delivery di daerah Serpong. Saat ini usahanya telah berkembang dengan pesat dengan karyawan yang berjumlah ribuan orang. Bisnisnya sudah merambah ke Surabaya dan Malang di Jawa Timur, Solo di Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Omzet per bulan dari usahanya pun tidak main-main, bisa mencapai miliaran rupiah.
Pada mulanya, Pipie sama sekali tak pernah memikirkan untuk menjadi pengusaha seperti itu. Selepas kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Jawa Tengah, Pipie memilih mencari pekerjaan dengan melamar berbagai perusahaan. Enam bulan lamanya Pipie menanti pekerjaan, tapi semuanya nihil.
Karena bosan menunggu panggilan kerja yang tak kunjung tiba, ia nekat membuka usaha. Untunglah niatnya itu didukung penuh oleh orang-orang terdekat termasuk keluarganya. Dari garasi rumahnya, Pipie kemudian mulai melayani pembuatan tas. Modalnya hanya dua unit mesin jahit, karyawannya pun baru tiga orang.
Karena usahanya mulai besar, Pipie mencoba mulai menjajal jenis usaha lain. Ia juga melayani pemasokan tas untuk delivery service. Pipie juga menyanggupi penyediaan tenaga dan motor untuk pengantaran. Tenaga outsource dari perusahaan Pipie itu telah dimanfaatkan oleh sejumlah restoran siap saji di beberapa kota, seperti McDonalds, Solaria, dan Burger King.
Merasa peruntungannya ada pada pembuatan tas dan delivery service, Pipie enggan melirik bisnis lain. Kini sehari-hari ia sibuk di kantornya yang juga berfungsi sebagai pabrik. Kantor ini baru didirikannya pada 2002 atau sepuluh tahun sejak ia merintis usaha
Sukses menjadi pengusaha diawali dari mimpi dan segera merealisasikan mimpi itu. Selain itu fokus pada usaha yang ditekuni turut mendukung kesuksesan menjadi pengusaha. Jadi jangan berhenti bermimpi.

Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/03/21/1431103/Jadi.Pengusaha.Bukan.Mimpi
READ MORE - Sukes Menjadi Pengusaha Berawal Dari Mimpi
 
hostgator coupon code